Langsung ke konten utama

Postingan

Allah, aku ingin kembali

Ternyata inti segala keluh kesahnya selama ini ada pada; hatinya yang terlalu cinta pada dunia. Harga surga seolah lebih murah dari dunia, sehingga waktu dan pikirannya dihabiskan lebih banyak memikirkan dunia. Dunia yang telah begitu lekat dihatinya, membuat langkahnya menjadi berat. Di separuh perjalanan ia terhenti, terdiam begitu lama... Allah, dengan sifatnya yang Maha Penyayang, menginginkannya kembali. Sebab Allah tau, didalam hati kecilnya terbersit niat ingin kembali. Dalam lamunan panjangnya, terlintas ayat-ayat CintaNya, "Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri mau-pun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka." (QS:9:111) Terbayang olehnya, ia saja ketika membeli sesuatu mestilah sesuatu yang kualitasnya baik. Misalnya saja ketika membeli buah, jika ada buah yang busuk dan buah yang segar tentu ia akan memilih buah yang segar. Lalu apalagi Allah yang membeli hambaNya dengan balasan surga yang indah megahnya saja tak pernah terjan...

Kenangan dari Mesir : Keikhlasan para Masyayikh

Pada akhirn ya, apa- apa yang ditingg al akan menjadi sebuah kenangan yang kelak sebagai lampu penerangan untuk menyusuri jalanan didepan agar selamat hingga terminal akhir. Yap, begitulah perjalanan ini, apa-apa yang telah berlalu yang sempat bersinggungan maupun tidak yang baik maupun buruk semuanya akan menjadi guru pembelajaran dikemudian hari. Mesir, salah satu pelajaran yang sangat terekam oleh memori ini adalah tentang keikhlasan para masyayikhnya. Hal yang sangat jarang didapatkan di negri ini. Baru beberapa bulan saja disini, hampir semua pertimbangan dinilai dari uang dan jarak. Hufft.. Mau kerja di tempat A, B, C dll ditanyain, jaraknya berapa gajinya berapa, sesuai tidak? Tidak salah memang, cuma mungkin belum terbiasa aja dengan realita seperti. Karna jujur saja, selama belajar di negri Piramid, hampir-hampir dari para guru mengajar dengan segenap keikhlasannya. Ada dosen yang rumahnya harus menempuh perjalanan berjam-jam menuju kampus. Ada yang pulang perginya ikut ber...

Pulang

Cerita hari inipun telah selesai. Meski nyatanya pada banyak hal versi selesai bagi manusia berbeda dengan versi semesta. Adapun pemeran-pemeran ceritanya, kejadian-kejadian sekaligus alur cerita yang terkadang diluar apa yang dipikirkan, suka tidak suka, yakin semuanya adalah baik. Yaa, sejatinya cerita apapun yang ditemui ia selalu berjalan bersama hikmah yang kadang memang suka datang sembunyi-sembunyi, meski terkadang begitu perih yang dirasa. Menjadikannya sebagai anugerah atau prahara adalah tergantung bagaimana diri menyikapinya.  Kalaulah Allah selalu bertanya sebelum menetapkan sesuatu, "Kamu maunya apa wahai hambaKu?" Tentulah kecenderungan akan sesuatu yang membahagiakan selalu menjadi pilihan. Namun, tentu mutiara tak akan didapat dengan cara seperti itu. Karena itu mensyukurinya atas apapun yang dirasa, menjadi bentuk paripurna dari sebuah penerimaan. Radhiitu billahi Esok jika masih diizinkan untuk berte mu semoga mentari bersinar lebih indah :) *** Akhir...

Khawatir

Ketika membuka tumblr kudapati tulisan Mas Gun (Kurniawan Gunadi) tentang kekhawatiran mengenai pasangan hidup kelak. Iya, rasanya tepat sekali tulisan itu muncul disaat seperti ini. Dalam tulisan tersebut Mas Gun bilang, “Kalau benar kita akan dipertemukan, bolehkah kucuri sedikit rahasiaNya? Agar aku tahu, kalau aku sedang menunggu yang baik, sekaligus yang terbaik bagiNya. Aku tahu sebenarnya tidak boleh, tapi aku khawatir diuji melalui pernikahan. Aku selalu bermimpi melalui pernikahan, kudapati orang yang bisa berjalan seiring, bersisian, bisa menenangkan jalan kedepan.” Melihat pengalaman pernikahan orang-orang sekitar sedikit banyak akan menghadirkan perasaan khawatir tentang bagaimana kehidupan pernikahan. Ada yang diuji melalui pasangannya yang berkhianat bahkan ketika usia telah mendekati senja. Ada yang kasar, tidak bertanggungjawab. Ada yang setelah menikah  membuat hubungan dengar ortunya dan sanak keluarganya renggang bahkan hilang rasa hormat. Dan berbagai macam ha...

Mengiba ampun

Dalam raka'at -raka'at sholat Adakah diri ingin mendekat Dalam sujud-sujud panjang Adakah kepadaNya saja diri bertopang Wahai Yang Maha Pengasih Yang kasihNya tiada pilih Wahai Yang Maha Penyaya ng Yang kasihNya tiada berbilang Disini, ada jiwa yang sedang termenung Terbayang dosa yang kian menggunung Memohon ribuan ampun Kepada Zat Yang Maha Pengampun Pada umur-umur yang kian bertambah Sedang taat tak juga bertambah Diatas sajadah ia bersimpuh Mengaharap rahmat dan magfiroh ~hamba yang mengiba ampun 15 Sya'ban 1440 H

Keberpihakan

H-13 menuju pemilu Beberapa hari yang lalu seorang senior bercerita kepada saya tentang namanya yang dicoret dari daftar pemilu yang ada di disini (Mesir) katanya namanya ada tercatat  di Indonesia, Jakarta tempat tinggalnya. “ Lah, kok bisa sih kak? Jadi kakak ga bisa ikut nyoblos dong ya. Yaaah.. hanguslah satu suara..” “Aku udah usaha tapi tetap ga bisa kata panitianya ya Tapi ga apa, aku pulang insyaallah, tiketnya juga udah dibeli, doanya ya..” “MasyaAllah, luar biasa kak. Khair insyaallah, semoga ini bisa menjadi salah satu wasilah terbukanya pintu kemenangan.” “Tapi bantu aku buat nge-share bagasi ya, ga apa ga untung, yang penting balik modal :D” “Iya kak, insyaallah. Semoga laku semuanya .” Kira-kira begitu percakapan kami waktu itu. Kaget banget pas tau beliau bela-belain buat pulang, langsung beli tiket tentunya harga tiket lebih mahal karna ga dari jauh-jauh hari. Dari cerita ini aku teringat sebuah kisa...

Taqwa

“Wahai orang-prang yang beriman! Bertaqwalah kepada Allah dan berimanlah kepada RasulNya(Muhammad), niscaya Allah memberikan rahmatNya kepadamu dua bagian, dan menjadikan cahaya untukmu yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan serta Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang” Al-Hadid:28 Taqwa itu kata syaikh Ratib An-Nabulsi dalam tafsirnya seperti cahaya. Coba kamu bayangkan berjalan pada malam hari ditengah hutan yang gelap, menakakutkan, yang disana ada banyak lobang, gundukan tanah, kalajengking, ular dan binatang buas lainnya, tapi ditnganmu ada senter kecil. Dengan senter tersebut kamu bisa melihat mana lobang, gundukan tanah, binatang berbisa dan semua yang menjadi penghalangmu dalam perjalanan tersebut, dengan senter itu kamu bisa melihat semuanya. Seperti itulah taqwa, hidup dengan ketaqwaan seolah ada benteng yang menjadi penhalang antara dirimu dan apa-apa yang Allah larang. Dengan taqwa manusia bisa berjalan dalam kebenaran meski akan...