Langsung ke konten utama

Untukmu, Pa, Ma...

Beberapa hari yang lalu saat diminta ngisi motivasi ngafal Qur'an buat murid-murid di ma'had aku merasa santai saja karena materi yang bakal disampaikan Alhamdulillah sudah ada rangkuman dari materi-materi sebelumnya saat beberapa kali dimintai ngisi kajian online. Kira-kira dua jam sebelum ngisi aku coba bava ulang materi yang sudah ada ternyata setelah ditimbang-timbang bahasanya terlalu tinggi buat anak-anak usia SMP-SMA karena memang sebelum-sebelumnya aku selalu dimintai ngisi buat ukuran mahasiswa. Alhasil bismillah perbanyak istighfar juga sholawat aku putuskan untuk bincang santai saja tentang pengalaman dulu ketika menghafal. 

Diawal basa basi kulemparkan pertanyaan kepada mereka apa yang menjadi penyemangat mereka menghafal. Salah seorang dari mereka menjawab, "ingin nanti ortunya dipakaikan mahkota." Mendengar jawaban itu entah kenapa mataku langsung berkaca-kaca dan tanpa sadar aku terisak teringat dahulu motivasi ku dalam menghafal adalah juga karena alasan yang sama. 

Yang kupikirkan saat itu hingga kini ialah aku yang selalu jauh dari orangtua sejak tamat SD bahkan hingga kini pun saat bekerja masih tak serumah dengan mereka. Setiap kali membaca Al-Qur'an, mengulang-ulang hafalan selalu kusisipkan niat agar pahala dari setiap huruf yang kubaca juga mengalir untuk mereka, menentramkan hati mereka dan berharap semoga kelak mereka dipakaikan mahkota terindah sebagai hadiah terbaik untuk mereka. Rasanya jika dipikir-pikir waktu ku dirumah tidaklah lama, baktiku masih jauh dari kata baik, maka lewat Qur'an aku ingin berbakti kepada mereka. 

Dan barusan ketika buka WhatsApp-nya mama, statusnya berganti "anakku sayang, kelak jika sudah terputus amalanku, kau lah harapanku." 
Air mataku tak berhenti mengalir bahkan hingga saat aku menuliskan inipun. Ah yaa Rabb, meski terkadang ada banyak luka-luka pengasuhan yang masih belum sembuh tetap saja jasa mereka tak akan pernah terbalaskan. Dengan hafalan Qur'an-ku ini berharap meski belum bisa membahagiakan mereka didunia semoga kelak dengan rahmat Allah melalui Qur'an ini papa mama dipakaikan mahkota terindah sebagai hadiah terbaik untuk mereka. 

Yaa... Rabb

اللهم اغفر لي و لوالدي و ارحمهما كما ربياني صغيرا

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seruan yang Menghidupkan: QS:Al-Anfal:24

"Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul, apabila dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan." Al-Anfal:24 Jalan kebahagiaan yang abadi adalah ketika manusia memenuhi seruan Allah dan RasulNya. "Wahai orang-orang yang beriman..." Allah ulang kembali seruan kepada orang-orang yang beriman setelah sebelumnya Allah serukan diayat 20. Sebagai isyarat bahwa iman itu menghendaki adanya amal perbuatan serta bersegera memenuhi apa yang datang setelah iman tersebut; perintah-perintah dan larangan. Mendorong mereka untuk mematuhi dan melarang mereka untuk berpaling.  Karena iman bukanlah dengan angan-angan atau sebagai penghias bibir saja. Tapi ia adalah yang tertancap kuat dalam hati dan dibenarkan oleh amal perbuatan.  Tambahan huruf ا س ت pada kata استجيبوا  mengandung makna melakukannya dengan sungguh...

Mendidik Generasi Qur'ani

Melihat banyaknya pesantren-pesantren di tanah air yang akhir-akhir ini mengadakan studi tour keluar negri khususnya negri timur untuk mengambil sanad tahfiz dan tahsin Qur'an menimbulkan sedikit banyaknya rasa sedih sekaligus khawatir akan ini semua. Tidak ada yang salah dengan program ini. Namun, siapapun pihak yang mengadakan ini terkhususnya sebagai orang tua yang ingin mendidik anak-anaknya menjadi generasi Qurani, mestilah tau dan paham bagaimana langkah-langkahnya dalam mendidik. Mendidik generasi Qurani tidak cukup hanya dengan bermodalkan uang banyak. Tidak cukup dengan hanya mengirimkan anaknya sebulan dua bulan ke luar negri, sebut saja Mesir salah satu contohnya. Tidak salah mengirimkan anak untuk belajar Qur'an langsung ke Mesir, namun ada tahapannya. Tahapan inilah yang banyak terlupakan oleh orang tua. Yang pertama kali mesti dilakukan orang tua dalam mendidik anak-anak agar menjadi generasi Qurani adalah menyandarkan diri kepada Allah dan memahami bahwa anak ...

Sekilas tentang Kehidupan Rumah Tangga

Udah lama banget ga nge-blog, sekalinya nge-blog langsung nulis tentang ini. Tulisan ini terinspirasi dari ftv tadi pagi. Kebetulan lagi nyetrika dan udah lama juga ga nonton dan emang tumben banget siarannya berhikmah, hahah.  Jadi tu hikmah yang aku dapet tadi ayah si gadis bilang, "Ngebangun rumah tangga itu ga kayak ngebangun perusahaan (si anak lagi kerja di sebuha perusahaan). Di perusahaan kalo ada yang ga disukai kita bisa dengan mudah ganti dengan yang lain, tidak dengan rumah tangga."   (Ga pernah seserius ini aku nonton ftv wkkwwk) Auto mikir, iya juga ya. Ya namanya hidup bersama ga suka itu pasti akan ada, gesekan-gesekan pasti akan datang, ga selamanya hubungan itu mulus. Ini yang pertama Yang kedua, kata bapak penjual bubur, " dalam kehidupan rumah tangga itu suami dan istri harus saling membantu dalam menyelesaikan tugas di rumah dan tugas-tugas lainnya. Kalo ibuk lagi ga bisa ngurus anak ya bapak yang gantiin. Pun begitu dengan tugas yang lainnya. Yang m...